Yang Baru di Coban Rais

Yang Baru di Coban Rais, Malang

Bukit Bulu dan Batu Flower Garden (BFG)

Esensi dari pergi berwisata, traveling, jalan-jalan atau apalah sebutannya, perlahan seiring dengan perkembangan zaman mulai ter-redefinisi; Kini traveling tidak lagi dimaknai semata sebagai sebuah aktifitas pergi bersama dengan keluarga atau orang-orang terkasih, make a quality time, makan bersama sembari menikmati tempat indah. Itu telah bergeser menjadi; Lihat foto tempat wisata keren di IG atau medsos lainnya, datang bersama teman-teman, foto-foto pake tongsis dan sebangsanya, haha hihi, pulang, upload di semua medsos yang dipunyai, dapet like sebanyak-banyaknya, case closed. Gitu terus sampe matahari terbit dari barat.

Engga, ga salah kok. Cuma, semoga walau dengan ‘cara kekinian’ piknik kita seperti itu, ada sesuatu yang akhirnya melekat setelahnya, misalnya: kenangan yang mendalam (HALAH!). Foto-foto, itu bonus, bukan prioritas. Menjadi prioritas, ketika kamu ingin menceritakan kembali apa yang kamu lihat, seperti yang penulis lakukan ini (ekhemmm, *inhealing **exhealing).

#Dahgituaja 😀

***

Akhir-akhir ini sedang marak sekali tempat wisata yang membuat spot untuk foto di atas bukit. Ada yang bentuknya love, rumah pohon dan semacamnya. Di Jogja adaKalibiru, di Lampung (kotaku tercinta) ada Muncak Tirtayasa Teropong Laut, ada juga di Bandung Tebing Keraton, dan masih buanyak lagi di penjuru Indonesia. Nah di Malang ada jugak nih, namanya Bukit Bulu. Secara ga sengaja lihat di Instagram. Bukit ini masih satu lokasi dengan Coban Rais. Sedikit penasaran, saya rencanakan untuk pergi kesana. Kali ini dengan bocah-bocah (Ade, Qonita, Nenab dan Wiwin). Janji berangkat jam 8, ternyata harus molor karena mamang bubur yang lewat. (Bubur ayam ini enakkk. Seporsi 8K, isinya bubur ditambah potongan kecil cakwe, suwiran ayam yang banyak, daun seledri plus kedele disiram pake kuah gurih. Jualan tiap pagi di sekitaran Merjosari).
Jam 9 am kurang dikit baru deh kami berangkat. Ade berboncengan dengan Qonita, Nenab dengan Wiwin, dan saya dengan keikhlasan hati merelakan mereka kebut-kebutan sementara saya santai saja menikmati jalan.
Menuju Kota Batu lewat jalur lingkar barat. Jalanannya mulus, lebar dan tidak terlalu ramai. Jadi deh tidak sampai 1 jam kami sudah sampai di loket masuk Coban Rais. Biaya masuk 7,5K per orang (update tiket masuk terbaru: 10K), parkir motor 2,5K. Hari sabtu, sudah lumayan banyak motor yang terparkir. Udara yang sejuk menyambut kami pagi itu.

Setelah memarkir motor, mata saya langsung tertuju pada sebuah rumah pohon yang berada dekat dengan lokasi parkiran. Aha! Saya langsung naik. Lumayan bikin deg-degan sih. Tinggi banget, men. Buat pegangan naiknya tali tambang doang. Ade masih sok cool, Wiwin berisik ngeliatin Nenab mau naik. Nenab? heleeeh…
Tidak jauh dari rumah pohon pertama, ada satu rumah pohon lagi yang bisa kami naiki. Saya mendahului mereka pergi kesitu. Dari kejauhan saya melihat Ade, Wiwin dan Qonita sedang teriak-teriak menyemangati Nenab untuk turun. Wkwkw! Rumah pohon yang kedua ini lebih rendah dari yang sebelumnya. Tempatnya lebih luas, cukup untuk 10 orang saya rasa (seukuran Qonita dan Wiwin tapi), namun disitu tertera, maksimal pengunjung 5 orang. Phew.

Dari rumah pohon itu, terlihat view Kota Batu dan Malang yang masih diselimuti kabut. Epic! Kalo lagi benar-benar cerah, puncak Mahameru juga kelihatan lho dari sini. Hanya bisa berucap, Masya Allah… Tidak berlama-lama, dari rumah pohon kedua yang kami naiki itu, selanjutnya kami trekking menuju Bukit Bulu dan Batu Flower Garden. Di tengah perjalanan, eh berpapasan sama mamang cilok goreng. Hmmm *pensive

Jarak dari tempat parkir menuju Bukit Bulu dan BFG tidak terlalu jauh. Trekking santai sekitar 30 menit (sudah plus haha hihi sepanjang jalan sambil foto-foto sekitar dan dua kitar). Trek yang dilalui berupa jalan tanah berbatu. Landai. Ditemani udara sejuk, gemericik aliran sungai kecil di sepanjang jalur yang kami lewati dan hijaunya hutan pinus, such a relaxing world! Adem rasanya.

Dari jauh, terlihat sebuah bukit dengan bebungaan yang tertata rapi dan indah. Kontras dengan hijaunya hutan pinus. That’s BFG! Batu Flower Garden ini baru akan diresmikan Desember pertengahan nanti. Disini terdapat spot ‘love’ yang bisa pengunjung gunakan untuk berfoto dengan latar hutan pinus, juga kebun bunga yang beraneka warna. Belum 100% jadi sih.

Baru saja akan masuk, ada petugas yang mempersilahkan untuk mendaftar (lagi) jika ingin masuk ke BFG. Per orangnya 10K. Bocah-bocah mundur teratur, “ah engga deh Mbak”. Karena saya berpikir nanggung, sudah sampai disitu, yasudah gapapa deh saya menuju spot itu sendiri. Saya melipir menuju tempat pendaftaran. Saat sedang antri, saya membaca info yang ditempel di meja: biaya masuk 10K (dapat 1 file foto), kamera SLR 15K, action cam 10K. Yah.

Bye BFG! Entar-entar lagi aja deh ya saya berkunjung kesitu. Gagal. Males. Bukan, bukan ga bawa uang lebih. Uang sih ada, cuma mikir lagi, “yaelah mau foto gitu doang aja ngabisin uang berapa coba. Lumayan buat beli sempol sampe kenyang”. Dari sana kami menuju ke spot ayunan. Bayar juga, 10K. Menguji adrenaline banget di spot ini. Walau saya ga nyobain langsung, tapi saya bisa lihat mbak-mbak yang teriak-teriak ga karuan ketakutan. Secara, bawahnya langsung jurang. Hiyyy! Oiya, selain ayunan, ada hammock juga yang disewakan. Entah untuk foto doang atau boleh nyantai lama disitu.
Terlihat sekali pembenahan sarana dan prasarana disana sini. Saya yakin tidak lama lagi tempat wisata ini akan ramai; didukung oleh panorama alam menawan, jarak yang tidak terlalu jauh dari Kota Batu dan Malang serta infrastruktur jalan menuju kesana yang sudah sangat mendukung. Namun sayang, itu tadii. Masuk sini bayar, masuk situ bayar (lagi). Entahlah, kalo pandangan orang awam seperti saya ini, itu malesin banget. Tapi mungkin itu salah satu cara pengelola me-manage banyaknya pengunjung juga untuk pengembangan sarpras menjadi semakin baik dan lengkap. Semoga kunjungan selanjutnya kesini sudah semakin baik manajemen tiketnya, amieeen.

Tidak berlama-lama, bocah-bocah sudah ngajakin pulang. Kami tidak ke air terjun nya. Kasian Nenab sama Ade, hihi. Jarak dari BFG kesana sekitar 2km, dan itu pasti lewati gunung lewati lembah. Baiklah next time insya Allah. Yang penting mereka seneng deh (walaupun tanpa poto naik ayunan yang Ade pengen banget kayaknya, uhuhu).
“Mbak nanti makan dulu ke mana ya pulangnya”.
“Ya”
” Yang ada es dugannya segerrr deh kayaknya ya”.
“Iya, es degan jeruk”.
“Wiih. Wenak diks”

Akhirnya kami mampir ke Kedai Assalamualaikum di depan kampus UMM (Unversitas Muhammadiyah Malang). Saya memesan seporsi ayam penyet (8,5K) dan es buah (4,5K). Kalo kamu kebetulan dari arah Batu menuju Malang atau sebaliknya, dan kamu kelaperan, mampir ke kedai ini boleh banget. Harganya murah, makanannya lumayan enak, porsinya mahasiswa (kelaperan) dan ga terlalu lama pelayanannya (walaupun pengunjungnya ruame banget). Balik dari Assalamualaikum, bubar masing-masing entah kemana. Yang jelas tujuan saya cuma satu: kasur di kamar kontrakan yang empuk banget buat ditidurin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *